Pengaruh Shalat dan Maksiat Terhadap Rezeki
Khutbah Pertama:
إِنَّ الحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ
وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا
وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا ، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ
وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا
اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ ؛ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ
أَجْمَعِيْنَ
أَمَّا بَعْدُ مَعَاشِرَ المُؤْمِنِيْنَ عِبَادَ اللهِ : اِتَّقُوْا اللهَ ؛
فَإِنَّ مَنِ اتَّقَى اللهَ وَقَاهُ وَأَرْشَدَهُ إِلَى خَيْرِ دِيْنِهِ
وَدُنْيَاهُ
Allah Ta’ala berfirman,
اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ
الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ
أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ
“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu al-Kitab (Alquran)
dan dirikanlah shalat! Sesungguhnya shalat itu mencegah dari
(perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.Dan sesungguhnya mengingat Allah
adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan
Allah mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (Al-‘Ankabut/29: 45).
Ibadallah,
“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu al-Kitab (Alquran),” Allah Azza wa Jalla
memerintahkan kepada kita untuk membaca wahyu-Nya, yaitu Alquran. Arti
dari membaca adalah mengikuti semua yang terkandung di dalamnya,
melaksanakan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, berjalan di atas
petunjuk-Nya, membenarkan seluruh yang dikabarkan, merenungi makna-makna
yang terkandung di dalamnya dan membaca lafaz-lafaznya.
Maksud dari penyebutan “bacalah” dalam ayat ini hanyalah penyebutan
sebagian makna untuk mewakili makna yang lain. Dengan demikian, kita
mengetahui bahwa arti dari kata perintah “bacalah” adalah menjalankan
agama seluruhnya. Sehingga perintah berikutnya, yaitu “dan dirikanlah
shalat!” hanyalah penyebutan sebagian hal dari keumuman perintah untuk
menjalankan seluruh agama.
Dalam ayat ini terdapat perintah khusus untuk mengerjakan shalat,
karena shalat memiliki banyak keutamaan, kemuliaan dan membuahkan
berbagai kebaikan, di antaranya “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari
(perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.”
Al-fahsya’ (perbuatan-perbuatan keji) artinya seluruh dosa besar dan
sangat buruk namun jiwa terpancing untuk melakukannya. Al-Munkar adalah
setiap maksiat yang diingkari oleh akal dan fitrah manusia.
Mengapa shalat bisa mencegah dari perbuatan keji dan mungkar? Karena
seorang hamba jika mengerjakannya dengan menyempurnakan rukun-rukun dan
syarat-syarat shalat serta khusyu’, maka itu dapat menerangi dan
membersihkan hatinya, menambah keimanannya, dan menambah keinginan untuk
berbuat baik. Semakin kuat keinginannya untuk berbuat baik dan semakin
sedikit atau bahkan tidak ada keinginan untuk melakukan keburukan.
Oleh karena itu, dengan selalu mengerjakan dan menjaga shalat dengan
baik, maka shalat akan mencegah seseorang dari perbuatan keji dan
mungkar. Ini termasuk tujuan dan buah dari shalat.
Dzikir di dalam shalat mencakup dzikir dalam hati, lisan dan badan. Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla
menciptakan manusia hanyalah untuk beribadah kepada-Nya. Dan ibadah
yang paling afdhal yang dilakukan manusia adalah shalat. Di dalam shalat
terdapat ibadah dengan menggunakan seluruh tubuh, yang tidak terdapat
pada ibadah selainnya. Oleh karena itu, Allah Azza wa Jalla mengatakan, yang artinya, “Dan Sesungguhnya mengingat Allah Azza wa Jalla adalah lebih besar.”
“Dan Allah mengetahui apa yang kalian kerjakan,” yang baik maupun yang buruk. Allah Azza wa Jalla akan membalas dengan balasan yang sesuai.
Kaum muslimin rahimakumullah,
Firman Allah Azza wa Jalla :
وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ
Dan dirikanlah shalat! Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.
Allah Azza wa Jalla memerintahkan hamba-Nya untuk
mengerjakan shalat. Shalat memiliki banyak manfaat. Diantaranya adalah
seseorang akan terhalangi dari perbuatan keji dan mungkar.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:
جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ،
فَقَالَ: إِنَّ فُلاَنًا يُصَلِّي بِاللَّيْلِ، فَإِذَا أَصْبَحَ سَرَقَ.
قَالَ: إِنَّهُ سَيَنْهَاهُ مَا تَقُولُ
Seorang laki-laki mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, ‘Sesungguhnya si Fulan shalat di malam hari, tetapi di waktu pagi dia mencuri.’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya shalatnya tersebut akan menahannya’. (HR. Ahmad).
Ibnu Mas’ud dan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhum mengatakan
bahwa di dalam shalat terdapat sesuatu yang dapat menahan dan mencegah
seseorang dari perbuatan maksiat kepada Allah Azza wa Jalla .
Barangsiapa shalatnya tidak menyuruhnya untuk melakukan perbuatan ma’ruf
(yang baik) dan tidak melarangnya dari perbuatan mungkar, maka dia
hanya membuat dirinya semakin jauh dari Allah Azza wa Jalla dengan shalat tersebut.
Al-Qatadah rahimahullah dan al-Hasan rahimahullah
berkata bahwa barangsiapa yang shalatnya tidak dapat menahannya dari
perbuatan fahsya’ dan mungkar, maka shalatnya tersebut menjadi perusak
dirinya.
Firman Allah Azza wa Jalla :
وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ
Dan sesungguhnya mengingat Allah adalah lebih besar. Dan Allah mengetahui apa yang kalian kerjakan
Firman Allah Azza wa Jalla di atas ditafsirkan dengan berbagai tafsir berikut:
Mengingat Allah Azza wa Jalla lebih besar pengaruhnya
dibandingkan shalat dalam hal menahan seseorang dari perbuatan keji dan
mungkar, karena shalat memang dapat mencegah seseorang dari kemungkaran
saat shalat, tetapi ketika di luar shalat pengaruhnya lebih kecil.
Sedangkan ber-dzikir kepada Allah Azza wa Jalla bisa menjadi pelindung dari perbuatan mungkar setiap saat.
Ber-dzikir kepada Allah Azza wa Jalla termasuk amalan yang paling afdhal. Dalam riwayat Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada para sahabatnya:
أَلاَ أُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرِ أَعْمَالِكُمْ وَأَرْضَاهَا عِنْدَ
مَلِيكِكُمْ وَأَرْفَعِهَا فِي دَرَجَاتِكُمْ وَخَيْرٍ لَكُمْ مِنْ
إِعْطَاءِ الذَّهَبِ وَالْوَرِقِ وَمِنْ أَنْ تَلْقَوْا عَدُوَّكُمْ
فَتَضْرِبُوا أَعْنَاقَهُمْ وَيَضْرِبُوا أَعْنَاقَكُمْ؟ قَالُوا: وَمَا
ذَاكَ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: ذِكْرُ اللَّهِ
Maukah saya kabarkan kepada kalian amalan terbaik, amalan yang paling
di-ridha-i oleh Rabb kalian, lebih bisa meningggikan derajat kalian,
lebih baik daripada memberikan emas dan perak, serta lebih baik daripada
kalian bertemu dengan musuh kalian, kalian penggal kepala-kepala mereka
kemudian mereka memenggal kepala kalian? Mereka pun berkata, “Apakah
itu, ya Rasulullah!” Beliau berkata, “Dzikir kepada Allah.”
وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ
Diterjemahkan dengan “Dan sesungguhnya Dzikir Allah (penyebutan Allah Azza wa Jalla terhadap para hamba-Nya di hadapan para malaikat) lebih besar (daripada dzikir hamba kepada Allah Azza wa Jalla).
Di antara dalil yang menunjukkan hal tersebut adalah hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Allah Azza wa Jalla berfirman:
مَنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ، ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي ، وَمَنْ ذَكَرَنِي
فِي مَلَأٍ مِنَ النَّاسِ ، ذَكَرْتُهُ فِي مَلَأٍ أَكْثَرَ مِنْهُمْ
وَأَطْيَبَ
“Barangsiapa mengingatku di dalam dirinya maka aku akan mengingatnya
di dalam diriku. Barangsiapa mengingatku ditengah sekelompok orang, maka
Aku akan mengingatnya di sekelompok (makhluk) yang lebih banyak dan
lebih baik dari itu.” (HR. Ahmad).
‘Abdullah bin Rabi’ah rahimahullah berkata, “Ibnu ‘Abbas
pernah berkata kepadaku, ‘Apakah engkau mengetahui tafsir dari perkataan
Allah Subhanahu wa Ta’ala (وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ )?’ Saya pun
mengatakan, ‘Ya.’ Beliau berkata, ‘Apa tafsirnya?’ Saya menjawab, ‘Dia
adalah bertasbih, bertahmid dan bertakbir dalam shalat, begitu pula
membaca Alquran dan yang sejenisnya.’ Beliau berkata, ‘Engkau telah
mengatakan sesuatu perkataan yang aneh. Artinya tidak sepertinya itu,
tetapi yang benar adalah Allah Azza wa Jalla mengingat kalian ketika Allah Azza wa Jalla memerintahkan dan melarang di saat kalian mengingatnya, lebih besar daripada ingat kalian kepada-Nya.
وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ
Diterjemahkan dengan “Dan sesungguhnya mengingat Allah (dengan
shalat) adalah lebih besar (daripada mengingatnya di selain shalat). Hal
ini sebagaimana terdapat pada ayat:
فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ
Bersegeralah menuju dzikir (mengingat) Allah. (Al-Jumu’ah/62:9)
Arti dzikir dalam ayat ini adalah shalat Jumat. Begitu pula dengan
ayat dalam surat al-‘Ankabut ini, arti dzikir dalam ayat ini adalah
shalat.
Ibadallah,
Shalat bisa mencegah dari perbuatan keji dan mungkar sebagaimana
disebutkan dalam ayat ini. Begitu pula seperti apa yang dialami oleh
Nabi Syu’aib ‘alaihissallam. Kaum Nabi Su’aib ‘alaihissallam mencela Nabi Syu’aib dengan mengatakan:
قَالُوا يَا شُعَيْبُ أَصَلَاتُكَ تَأْمُرُكَ أَنْ نَتْرُكَ مَا يَعْبُدُ آبَاؤُنَا أَوْ أَنْ نَفْعَلَ فِي أَمْوَالِنَا مَا نَشَاءُ
Mereka berkata, ‘Ya Syu’aib apakah shalatmu yang memerintahkan
kepadamu agar kami meninggalkan apa-apa yang bapak-bapak kami ibadahi
atau kami melakukan pada harta-harta kami apapun yang kami inginkan.”
(Hud/11:87)
Nabi Syu’aib ‘alaihissallam terkenal dengan kerajinannya
dalam mengerjakan shalat, sehingga kaumnya terheran-heran ketika mereka
disuruh untuk meninggalkan kesyirikan dan meninggalkan perbuatan haram
mereka dalam mencari harta.
Ini menunjukkan bahwa shalat berpengaruh terhadap ketaatan seseorang
kepada Allah dan dapat menahannya dari mencari harta dengan jalan yang
diharamkan.
Ibadallah,
Abul-‘Aliyah rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya di dalam
shalat itu terdapat tiga hal. Setiap shalat yang kehilangan satu saja
dari tiga hal ini maka itu bukan shalat, yaitu: keikhlasan, rasa takut
dan mengingat Allah. Keikhlasan akan menyuruhnya untuk berbuat ma’ruf,
ketakutannya kepada Allah akan melarangnya dari perbuatan mungkar dan
dzikirullah dengan membaca Alquran akan menyuruhnya dan juga
melarangnya.
Ibnu ‘Aun Al-Anshari rahimahullah berkata, “Apabila engkau
sedang shalat, maka engkau berada dalam hal yang ma’ruf (baik). Engkau
telah menahan dirimu dari mengerjakan perbuatan keji dan mungkar.”
Syaikh Abu Bakr Jabir Al-Jazairi hafidzhahullah berkata, “Dalam shalat, hal pertama yang dilakukan adalah mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah Azza wa Jalla, kemudian kedua adalah menjaga kebersihan hati agar tidak memalingkan ibadah kepada selain Rabb Azza wa Jalla
ketika mengerjakannya. Kemudian mengerjakan shalat pada waktunya di
masjid-masjid, rumah Allah, dan bersama jamaah kaum Muslimin,
hamba-hamba Allah dan wali-walinya. Kemudian memperhatikan
rukun-rukunnya, di antaranya: membaca al-Fatihah, ruku’ serta
ber-thuma’ninah di dalamnya, bangkit dari ruku’ serta ber-thuma’ninah di
dalamnya, kemudian sujud di atas dahi dan hidung serta ber-thuma’ninah
di dalamnya dan rukun terakhirnya adalah khusyu’, yaitu ketenangan,
kelembutan hati dan meneteskan air mata. Shalat yang seperti inilah yang
memunculkan cahaya energi yang dapat menghalangi seseorang agar tidak
tercebur ke dalam syahwat dan dosa, serta tidak mendatangi perbuatan
keji dan tidak mengerjakan perbuatan mungkar.”
Ibadallah,
Dosa yang dilakukan oleh seseorang dapat berpengaruh terhadap rezeki yang Allah Azza wa Jalla berikan kepadanya. Allah Azza wa Jalla menahan rezeki orang yang berbuat maksiat. Allah Azza wa Jalla berfirman:
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ
Jikalau penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi. (Al-A’raf/7:96)
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْكِتَابِ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَكَفَّرْنَا عَنْهُمْ
سَيِّئَاتِهِمْ وَلَأَدْخَلْنَاهُمْ جَنَّاتِ النَّعِيمِ ﴿٦٥﴾ وَلَوْ
أَنَّهُمْ أَقَامُوا التَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيلَ وَمَا أُنْزِلَ
إِلَيْهِمْ مِنْ رَبِّهِمْ لَأَكَلُوا مِنْ فَوْقِهِمْ وَمِنْ تَحْتِ
أَرْجُلِهِمْ
Dan sekiranya ahli kitab beriman dan bertakwa, tentulah kami tutup
(hapus) kesalahan-kesalahan mereka dan tentulah kami masukkan mereka
kedalam surga-surga yang penuh kenikmatan. Dan sekiranya mereka
sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat dan Injil dan (Alquran) yang
diturunkan kepada mereka dari Rabb-nya, niscaya mereka akan mendapat
makanan dari atas dan dari bawah kaki mereka. (Al-Maidah/5: 65-66)
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ﴿٢﴾ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya dia akan mengadakan baginya
jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada
disangka-sangkanya.” (Ath-Thalaq/65:2-3)
Ayat-ayat di atas menunjukkan kaitan yang erat antara rezeki seseorang dengan ketakwaannya kepada Allah Azza wa Jalla . Orang yang berbuat maksiat kepada Allah Azza wa Jalla bukanlah orang yang bertakwa kepada-Nya.
Saudaraku kaum muslimin,
Orang yang meninggalkan shalat telah melakukan dosa yang sangat besar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :
إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكَ الصَّلاَةِ
Sesungguhnya pembeda antara seseorang dengan kesyirikan atau kekafiran adalah meninggalkan shalat. (HR. Muslim).
Orang yang meninggalkan shalat bukanlah orang yang bertakwa kepada Allah Azza wa Jalla .
Allah Azza wa Jalla menyebutkan kaitan yang erat antara shalat dan rezeki seseorang di dalam ayat berikut, Allah Azza wa Jalla berfirman:
وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا
مِنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ ۚ وَرِزْقُ
رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ ﴿١٣١﴾ وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ
وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ
وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ
Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami
berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan
dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. Dan karunia Rabb kamu lebih
baik dan lebih kekal. Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan
shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta
rezeki kepadamu, Kami-lah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang
baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa. (Thaha/20:131-132)
Ayat tersebut dengan jelas menyebutkan bahwa orang yang mengerjakan
shalat kemudian memiliki kesabaran yang kuat ketika mengerjakannya, maka
dia akan diberikan rezeki oleh Allah Azza wa Jalla tanpa bersusah payah mencarinya. Inilah ganjaran bagi orang yang bertakwa kepada Allah Azza wa Jalla.
Dalam kisah Nabi Syu’aib ‘alaihissallam, Allah Azza wa Jalla menyebutkan perkataan Nabi Syu’aib ‘alaihissallam setelah kaumnya memahami bahwa shalatlah yang menahan beliau dari perbuatan mungkar:
قَالَ يَا قَوْمِ أَرَأَيْتُمْ إِنْ كُنْتُ عَلَىٰ بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّي وَرَزَقَنِي مِنْهُ رِزْقًا حَسَنًا
Syu’aib berkata, “Hai kaumku, bagaimana pikiranmu jika aku mempunyai
bukti nyata dari Rabbku dan dianugerahi-Nya aku dari rezki yang baik
(patutkah aku menyalahi perintah-Nya)? (Hud/11:88)
Nabi Syu’aib ‘alaihissallam menjelaskan kepada mereka bahwa dengan shalat dan penjelasan yang nyata dari Rabb-nya, maka Allah Azza wa Jalla memberikannya rezeki yang baik dan halal. Berbeda dengan mereka yang sibuk mencari harta-harta haram.
Meski demikian, sebagian orang tidak percaya akan adanya kaitan erat
antara shalat dengan rezeki. Ini tidak jauh berbeda dengan apa yang
dikatakan oleh kaum Nabi Syu’aib ‘alaihissallam:
قَالُوا يَا شُعَيْبُ مَا نَفْقَهُ كَثِيرًا مِمَّا تَقُولُ
Wahai Syu’aib! Kami tidak paham banyak hal dari apa yang kamu katakan. (Hud/11:91)
Mereka mengatakan ini karena hati-hati mereka lebih terikat dan lebih tertarik pada dunia dibandingkan dengan shalat.
أَقُوْلُ هَذَا القَوْلِ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ
المُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ يَغْفِرْ لَكُمْ
إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ.
Khutbah Kedua:
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَظِيْمِ الإِحْسَانِ وَاسِعِ الفَضْلِ وَالجُوْدِ
وَالاِمْتِنَانِ , وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ لَهُ , وَأَشْهَدُ أَنَّ محمداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ؛ صَلَّى
اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ
وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْرًا .
أَمَّا بَعْدُ أَيُّهَا المُؤْمِنُوْنَ عِبَادَ اللهِ : اِتَّقُوْا اللهَ
تَعَالَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ تَقْوَى اللهَ جَلَّ وَعَلَا هِيَ خَيْرُ
زَادِ يُبَلِّغُ إِلَى رِضْوَانِ اللهِ ، وَتَقْوَى اللهَ جَلَّ وَعَلَا :
أَنْ تَعْمَلَ بِطَاعَةِ اللهِ عَلَى نُوْرٍ مِنَ اللهِ تَرْجُوْ ثَوَابَ
اللهِ ، وَأَنْ تَتْرَكَ مَعْصِيَةَ اللهِ عَلَى نُوْرٍ مِنَ اللهِ تَخَافُ
عِقَابَ اللهِ .
Ibadallah,
Orang-orang yang belum bisa mengerjakan shalat lima waktu wajib bertaubat kepada Allah dengan segera. Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla Maha Mengampuni para hamba-Nya yang mau bertaubat.
Di antara yang dapat meleburkan dosa adalah mengerjakan shalat lima waktu. Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau radhiyallahu ‘anhu mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهَرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ فِيهِ
كُلَّ يَوْمٍ خَمْسًا مَا تَقُولُ ذَلِكَ يُبْقِي مِنْ دَرَنِهِ ؟ قَالُوا :
لاَ يُبْقِي مِنْ دَرَنِهِ شَيْئًا قَالَ فَذَلِكَ مِثْلُ الصَّلَوَاتِ
الْخَمْسِ يَمْحُو اللَّهُ بِهَا الْخَطَايَا
Bagaimana menurut kalian jika di depan pintu seorang di antara kalian
terdapat sungai yang setiap hari dia mandi di dalamnya. Apakah akan
tersisa kotoran di tubuhnya?” Para sahabat menjawab, “Tidak tersisa
kotoran sedikit pun di tubuhnya.” Beliau berkata, “Seperti itulah shalat
lima waktu, dengannya Allah menghapuskan dosa-dosa”
Allah Azza wa Jalla menjanjikan rezeki yang berlimpah untuk orang yang mau bertaubat kepada Allah Azza wa Jalla.
Allah Azza wa Jalla berfirman:
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا ﴿١٠﴾ يُرْسِلِ
السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا ﴿١١﴾ وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ
وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا
Maka aku katakan kepada mereka, ‘Mohonlah ampun kepada Rabbmu!
Sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan
hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan
mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya)
untukmu sungai-sungai.” (Nuh/71:10-12)
Ibadallah,
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut:
Pertama: Shalat dan Dzikir kepada Allah Azza wa Jalla dapat menahan seseorang dari pekerjaan keji dan mungkar.
Kedua: Shalat yang dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar
adalah shalat yang terpenuhi rukun-rukun shalat, keikhlasan, kekusyu’an,
ketakutan kepada Allah dan dzikir kepada Allah Azza wa Jalla.
Ketiga: Perbuatan dosa seseorang dapat menahan rezeki Allah kepadanya dan ketakwaan dapat melancarkannya.
Keempat: Shalat sangat berpengaruh kepada ketakwaan seseorang dan
dapat menjadi sebab dibukakannya pintu rezeki yang halal dan baik.
Kelima: Shalat lima waktu dapat menghapuskan dosa-dosa seseorang yang telah lalu.
وَاعْلَمُوْا أَنَّ أَصْدَقَ الحَدِيْثِ كَلَامُ اللهِ، وَخَيْرَ الهُدَى
هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُوْرِ
مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعُةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ،
وَعَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ فَإِنَّ يَدَ اللهِ عَلَى الجَمَاعَةِ .
وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا رَعَاكُمُ اللهُ عَلَى مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ
اللهِ كَمَا أَمَرَكُمُ اللهُ بِذَلِكَ فِي كِتَابِهِ فَقَالَ: ﴿ إِنَّ
اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً ﴾ [الأحزاب:٥٦]
، وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (( مَنْ صَلَّى عَلَيَّ
صَلاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا)) .
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ،
وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَلْأَئِمَّةَ
المَهْدِيِيْنَ؛ أَبِيْ بَكْرِ الصِّدِّيْقِ، وَعُمَرَ الفَارُوْقِ،
وَعُثْمَانَ ذِيْ النُوْرَيْنِ، وَأَبِيْ الحَسَنَيْنِ عَلِيٍّ, وَارْضَ
اللَّهُمَّ عَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ وَعَنِ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ
تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ، وَعَنَّا مَعَهُمْ
بِمَنِّكَ وَكَرَمِكَ وَإِحْسَانِكَ يَا أَكْرَمَ الأَكْرَمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ أَعِزَّ
الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ
وَالمُسْلِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ انْصُرْ مَنْ نَصَرَ دِيْنَكَ وَكِتَابَكَ
وَسُنَّةَ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ،
اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا المُسْلِمِيْنَ المُسْتَضْعَفِيْنَ فِي
كُلِّ مَكَانٍ، اَللَّهُمَّ انْصُرْهُمْ فِي أَرْضِ الشَامِ وَفِي كُلِّ
مَكَانٍ، اَللَّهُمَّ كُنْ لَنَا وَلَهُمْ حَافِظاً وَمُعِيْنًا
وَمُسَدِّداً وَمُؤَيِّدًا،
اَللَّهُمَّ وَاغْفِرْ لَنَا ذُنُبَنَا كُلَّهُ؛ دِقَّهُ وَجِلَّهُ،
أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ، سِرَّهُ وَعَلَّنَهُ، اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا
وَلِوَالِدَيْنَا وَلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِيْنَ
وَالمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ
إِنَّا نَسْأَلُكَ حُبَّكَ، وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ، وَحُبَّ العَمَلَ
الَّذِيْ يُقَرِّبُنَا إِلَى حُبِّكَ. اَللَّهُمَّ زَيِّنَّا بِزِيْنَةِ
الإِيْمَانِ وَاجْعَلْنَا هُدَاةَ مُهْتَدِيْنَ. اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ
ذَاتَ بَيْنِنَا وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ
السَّلَامِ، وَأَخْرِجْنَا مِنَ الظُلُمَاتِ إِلَى النُّوْرِ. اَللَّهُمَّ
آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرَ مَنْ زَكَّاهَا،
أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً
وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عباد الله، (إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ
ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنْ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ
يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ* وَأَوْفُوا بِعَهْدِ اللَّهِ إِذَا
عَاهَدْتُمْ وَلا تَنقُضُوا الأَيْمَانَ بَعْدَ تَوْكِيدِهَا وَقَدْ
جَعَلْتُمْ اللَّهَ عَلَيْكُمْ كَفِيلاً إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا
تَفْعَلُونَ) [النحل:90-91]، فَاذْكُرُوْا اللهَ يَذْكُرْكُمْ،
وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ،
وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.
(Diadaptasi dari tulisan Ustadz Said Yai Ardiansyah di majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun XVIII/1436H/2015M).
Artikel www.KhotbahJumat.com
