
Kesombongan Penghalang Masuk Surga
Khutbah Pertama:
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدَ الشَّاكِرِيْنَ، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ عَلَى
نِعَمِهِ المُتَوَالِيَةِ وَعَطَايَاهُ المُتَتَالِيَةِ وَنِعَمِهِ
اَلَّتِي لَا تَعُدَّ وَلَا تُحْصَى, أَحْمَدُهُ جَلَّا وَعَلَا وَأُثْنِي
عَلَيْهِ
الخَيْرَ كُلَّهُ لَا نُحْصِي ثَنَاءَ عَلَيْهِ هُوَ سُبْحَانَهُ كَمَا
أَثْنَى عَلَى نَفْسِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ
لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَسَلَّمَ
تَسْلِيْماً كَثِيْرًا .
أَمَّا بَعْدُ أَيُّهَا المُؤْمِنُوْنَ عِبَادَ اللهِ: اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى،
Ibadallah,
Kesombongan (al-kibr) adalah melihat diri sendiri melebihi al-haq
(kebenaran) dan al-khalq (makhluk; orang lain). Jadi, orang yang sombong
melihat dirinya di atas orang lain dalam sifat kesempurnaan.
Kesombongan ada dua yaitu kesombongan terhadap al-haq (kebenaran), dan kesombongan terhadap al-khalq (makhluk/manusia).
Seorang manusia, tatkala melihat dan menganggap dirinya besar atau
mulia, dia akan menganggap orang lain kecil dan merendahkannya. Dia akan
memandang al-haq (kebenaran) akan menghancurkan kedudukannya dan
mengecilkan posisinya. Dan dia melihat manusia lainnya seolah-olah
binatang, karena dianggap bodoh dan hina.
Dalam hadits, Rasulullah telah menjelaskan makna kesombongan:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ عَنِ النَّبِىِّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِى
قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ. قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ
يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً. قَالَ : إِنَّ
اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ
النَّاسِ.
Dari Abdullah bin Mas’ud, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang ada kesombongan seberat
biji sawi di dalam hatinya.” Seorang laki-laki bertanya, “Sesungguhnya
semua orang senang bajunya bagus, sandalnya bagus, (apakah itu
kesombongan?”) Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,
“Sesungguhnya Allah Maha Indah dan menyintai keindahan. Kesombongan
adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia”. (HR. Muslim).
Ibadallah,
Sesungguhnya bahaya kesombongan itu sangat besar, banyak orang binasa
karenanya. Diantara bahaya kesombongan adalah kesombongan merupakan
dosa pertama yang dilakukan makhluk. Kesombongan adalah dosa pertama
yang dilakukan Iblis. Allah
Ta’ala berfirman:
وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَىٰ وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ
Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para Malaikat, “Sujudlah
kamu kepada Adam!,” Maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan
takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.
(Al-Baqarah/2: 34)
Diantara bahaya kesombongan juga adalah neraka menjadi tempat kembali mereka, sebagaimana ketika Allah
Azza wa Jalla menyebutkan sifat sombong orang-orang kafir dalam firman-Nya:
قِيلَ ادْخُلُوا أَبْوَابَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا ۖ فَبِئْسَ مَثْوَى الْمُتَكَبِّرِينَ
Masukilah pintu-pintu neraka Jahannam itu, sedang kamu kekal di
dalamnya”. Maka neraka Jahannam itulah seburuk-buruk tempat bagi
orang-orang yang menyombongkan diri. (Az-Zumar/39:72)
Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ أَهْلَ النَّارِ كُلُّ جَعْظَرِيٍّ جَوَّاظٍ مُسْتَكْبِرٍ جَمَّاعٍ مَنَّاعٍ وَأَهْلُ الْجَنَّةِ الضُّعَفَاءُ الْمَغْلُوبُونَ
Sesungguhnya penduduk neraka adalah semua orang yang kasar lagi
keras, orang yang bergaya sombong saat berjalan, orang yang bersombong,
orang yang banyak mengumpulkan harta, orang yang sangat bakhil. Adapun
penduduk surga adalah orang-orang yang lemah dan terkalahkan. (Hadits
Shahih Riwayat Ahmad dan al-Hakim).
Mereka akan merasakan berbagai macam siksaan di neraka Jahannam, akan
diliputi kehinaan dari berbagai sisi, dan akan diminumi nanah penduduk
neraka. Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
يُحْشَرُ الْمُتَكَبِّرُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَمْثَالَ الذَّرِّ فِي
صُوَرِ الرِّجَالِ يَغْشَاهُمْ الذُّلُّ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ فَيُسَاقُونَ
إِلَى سِجْنٍ فِي جَهَنَّمَ يُسَمَّى بُولَسَ تَعْلُوهُمْ نَارُ
الْأَنْيَارِ يُسْقَوْنَ مِنْ عُصَارَةِ أَهْلِ النَّارِ طِينَةَ
الْخَبَالِ
Pada hari kiamat orang-orang yang sombong akan digiring dan
dikumpulkan seperti semut kecil, di dalam bentuk manusia, kehinaan akan
meliputi mereka dari berbagai sisi. Mereka akan digiring menuju sebuah
penjara di dalam Jahannam yang namanya Bulas. Api neraka yang sangat
panas akan membakar mereka. Mereka akan diminumi nanah penduduk neraka,
yaitu thinatul khabal (lumpur kebinasaan). (Hadits Hasan. Riwayat
al-Bukhari, Tirmidzi, Ahmad, dan Nu’aim bin Hammad).
Kaum muslimin rahimakumullah,
Sebagian orang menyangka bahwa kesombongan itu letaknya dalam hati
saja, sehingga dengan perbuatannya semata-mata seseorang itu tidak bisa
dikatakan sombong. Benarkah demikian? Ternyata tidak. Karena walaupun
pada asalnya kesombongan itu di dalam hati, akan tetapi bisa memunculkan
bentuk-bentuk kesombongan yang dapat diketahui oleh panca indra. Inilah
di antara bentuk kesombongan-kesombongan yang harus ditinggalkan:
Pertama: Takabbur Terhadap Al-Haq
Di antara bentuk kesombongan terburuk adalah menolak kebenaran.
Kesombongan ini menyebabkan dia tidak bisa mengambil faedah ilmu dan
tidak bisa menerima al-haq serta tidak tunduk kepada al-haq. Terkadang
ia meraih pengetahuan, namun jiwanya tidak mau tunduk terhadap al-haq,
sehingga ia tidak bisa mendapatkan manfaat dari ilmu yang berhasil dia
raih, sebagaimana Allah
Azza wa Jalla memberitakan tentang kaum Fir’aun:
وَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنْفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا ۚ فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُفْسِدِينَ
Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan (mereka),
padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya. Maka perhatikanlah betapa
kesudahan orang-orang yang berbuat kebinasaan. (An-Naml/27: 14)
Orang yang takabbur terhadap al-haq –walaupun kebenaran itu datang
kepadanya lewat perantara anak kecil atau orang yang dia benci dan
musuhi- , maka sebenarnya dia takabbur kepada Allah
Azza wa Jalla , karena Allah
Azza wa Jalla
adalah al-Haq, perkataan-Nya adalah haq, agama-Nya haq, al-haq
merupakan sifat-Nya, dan al-haq itu berasal dari-Nya dan untuk-Nya. Jika
seseorang menolak al-haq, enggan menerimanya, maka sesungguhnya dia
menolak Allah
Azza wa Jalla dan takabbur terhadap-Nya. Dan barangsiapa takabbur terhadap Allah
Azza wa Jalla, niscaya Allah
Azza wa Jalla akan menghinakannya.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin
rahimahullah
berkata, “Menolak al-haq yaitu seseorang menolak kebenaran berdasarkan
penilaian dirinya dan fikirannya. Dia melihat bahwa dirinya lebih besar
dari kebenaran. Tandanya adalah seseorang yang didatangkan kepadanya
dalil-dalil dari al-Kitab dan as-Sunnah, tetapi dia tidak menerima,
bahkan dia terus mengikuti pendapatnya, maka ini adalah sebentuk
penolakan terhadap kebenaran. Banyak orang hanya membela dirinya, jika
dia telah berpendapat dengan satu pendapat, tidak mungkin dia
meninggalkannya, walaupun dia tahu pendapatnya itu menyelisihi
kebenaran. Sikap ini sesungguhnya menyelisihi agama dan akal. Yang wajib
adalah seseorang itu kembali mengikuti kebenaran, di manapun ia dapati,
walaupun kebenaran itu menyelisihi pendapatnya.
Sesungguhnya sikap ini lebih mulia baginya di sisi Allah dan di sisi
manusia, serta lebih menyelamatkannya. Janganlah engkau menyangka, jika
engkau meninggalkan pendapatmu menuju kebenaran, itu akan merendahkan
kedudukanmu di kalangan manusia, namun justru itu akan meninggikan
kedudukanmu, dan mansuia akan mengetahui bahwa engkau hanya mengikuti
kebenaran. Adapun orang yang menentang, dan terus mengikuti pendapatnya,
serta menolak kebenaran, maka ini adalah orang yang sombong. Kita
berlindung kepada Allah
Azza wa Jalla.” (Diringkas dari Syarah Riyadhus Shalihin, bab: Keharaman Kesombongan dan ujub)
Kedua: Takabbur Terhadap Manusia.
Yaitu seseorang memandang dirinya di atas manusia lainnya, sehingga
dia menganggap dirinya besar dan meremehkan yang lain. Kesombongan ini
akan mendorong kepada kesombongan terhadap perintah Allah
Azza wa Jalla. Sebagaimana kesombongan Iblis terhadap nabi Adam
‘alaihissallam mendorongnya untuk enggan melaksanakan perintah Allah untuk sujud kepada Adam
‘alaihissallam. Allah
Azza wa Jalla berfirman:
فَسَجَدَ الْمَلَائِكَةُ كُلُّهُمْ أَجْمَعُونَ ﴿٧٣﴾ إِلَّا إِبْلِيسَ
اسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ ﴿٧٤﴾ قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا
مَنَعَكَ أَنْ تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ ۖ أَسْتَكْبَرْتَ أَمْ
كُنْتَ مِنَ الْعَالِينَ ﴿٧٥﴾ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ ۖ خَلَقْتَنِي
مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ
Lalu seluruh malaikat-malaikat itu bersujud semuanya, kecuali Iblis;
dia menyombongkan diri dan adalah dia termasuk orang-orang yang kafir.
Allah berfirman, “Hai Iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada
yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan
diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?”.
Iblis berkata: “Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku
dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah”. (Shaad/38: 73-76)
Ketiga: Kesombongan Dengan Pakaian.
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلَاءَ لَمْ يَنْظُرْ اللَّهُ إِلَيْهِ يَوْمَ
الْقِيَامَةِ قَالَ أَبُو بَكْرٍ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أَحَدَ شِقَّيْ
إِزَارِي يَسْتَرْخِي إِلَّا أَنْ أَتَعَاهَدَ ذَلِكَ مِنْهُ فَقَالَ
النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَسْتَ مِمَّنْ يَصْنَعُهُ
خُيَلَاءَ
Barangsiapa menyeret pakaiannya dengan sebab sombong, Allah tidak
akan melihatnya pada hari kiamat. Lalu Abu Bakar berkata, “Sesungguhnya
terkadang salah satu sisi sarungku turun, kecuali jika aku menjaganya”.
Maka Nabi bersabda, “Engkau tidak termasuk orang yang melakukannya
dengan sebab sombong”. (HR. al–Bukhari dan lainnya dari Ibnu Umar
radhiyallahu anhuma).
أَقُوْلُ هَذَا القَوْلَ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ
المُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ يَغْفِرْ لَكُمْ
إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ .
Khutbah Kedua:
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَظِيْمِ الإِحْسَانِ وَاسِعِ الفَضْلِ وَالجُوْدِ
وَالاِمْتِنَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ؛ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَسَلَّمَ
تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا .
أَمَّا بَعْدُ أَيُّهَا المُؤْمِنُوْنَ عِبَادَ اللهِ:
أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ، فَإِنَّ مَنِ اتَّقَى اللهَ
وَقَاهُ وَأَرْشَدَهُ إِلَى خَيْرٍ أُمُوْرٍ دِيْنِهِ وَدُنْيَاهُ،
وَتَقْوَى اللهِ – عَبِادَ اللهِ – أَنْ يَعْمَلَ العَبْدُ بِطَاعَةِ اللهِ
عَلَى نُوْرٍ مِنَ اللهِ يَرْجُوْ ثَوَابَ اللهِ، وَأَنْ يَتْرُكَ
مَعْصِيَةَ اللهِ عَلَى نُوْرٍ مِنَ اللهِ يَخَافُ عِقَابَ اللهِ .
Ibadallah,
Keempat: Kesombongan Dengan Perbuatan.
Kesombongan dengan perbuatan bisa berupa memalingkan wajahnya dari manusia, berjalan dengan berlagak, dan lainnya. Allah
Azza wa Jalla berfirman:
وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ
Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong)
dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya
Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.
(Luqman/31: 18)
Semoga Allah
Azza wa Jalla menjauhkan kita dan menjaga kita dari kesombongan dengan segala bentuknya. Hanya Allah
Azza wa Jalla tempat memohon pertolongan.
وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا رَحِمَكُمُ اللهُ عَلَى النَّبِيِّ المُصْطَفَى
مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ كَمَا أَمَرَكُمُ اللهُ بِذَلِكَ فِي
كِتَابِهِ فَقَالَ: ﴿ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى
النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا
تَسْلِيماً ﴾ [الأحزاب:٥٦] ، وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ((
مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا)).
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ .
وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَلْأَئِمَّةِ
المَهْدِيِيْنَ أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَارْضَ
اللَّهُمَّ عَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ وَعَنِ التَّابِعِيْنَ وَمَنِ
اتَّبِعُهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ، وَعَنَّا مَعَهُمْ
بِمَنِّكَ وَكَرَمِكَ وَإِحْسَانِكَ يَا أَكْرَمَ الأَكْرَمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ أَعِزَّ
الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ, اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ
وَالمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ، وَدَمِّرْ
أَعْدَاءَ الدِّيْنَ، وَاحْمِ حَوْزَةَ الدِّيْنَ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ،
اَللَّهُمَّ انْصُرْ مَنْ نَصَرَ دِيْنَكَ، اَللَّهُمَّ انْصُرْ
إِخْوَانَنَا فِي كُلِّ مَكَانٍ اَللَّهُمَّ انْصُرْهُمْ فِي فِلَسْطِيْنَ
وَفِي كُلِّ مَكَانٍ، اَللَّهُمَّ أَيِّدْهُمْ بِتَأْيِيْدِكَ
وَاحْفَظْهُمْ بِحِفْظِكَ يَا ذَا الجَلَالِ وَالإِكْرَامِ، اَللَّهُمَّ
وَعَلْيَكَ بِاليَهُوْدِ المُعْتَدِيْنَ الغَاصِبِيْنَ فَإِنَّهُمْ لَا
يُعْجِزُوْنَكَ، اَللَّهُمَّ إِنَّا نَجْعَلُكَ فِي نُحُوْرِهِمْ
وَنَعُوْذُ بِكَ اللَّهُمَّ مِنْ شُرُوْرِهِمْ، اَللَّهُمَّ آمِنَّا فِي
أَوْطَانِنَا وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُوْرِنَا وَاجْعَلْ
وِلَايَتَنَا فِيْمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ يَا رَبَّ
العَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَ أَمْرِنَا لِمَا تُحِبُّ
وَتَرْضَى وَأَعِنْهُ عَلَى البِرِّ وَالتَّقْوَى وَسَدِدْهُ فِي
أَقْوَالِهِ وَأَعْمَالِهِ وَأَلْبِسْهُ ثَوْبَ الصِحَّةَ العَافِيَةَ
وَارْزُقْهُ البِطَانَةَ الصَالِحَةَ النَاصِحَةَ، اَللَّهُمَّ وَفِّقْ
جَمِيْعَ وُلَاةَ أُمُوْرِ المُسْلِمِيْنَ لِلْعَمَلِ بِكِتَابِكَ
وَاتِّبَاعِ سُنَّةِ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ،
وَاجْعَلْهُمْ رَحْمَةً وَرَأْفَةً عَلَى عِبَادَكَ المُؤْمِنِيْنَ.
اَللَّهُمَ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا زَكِّهَا أَنْتَ خَيْرَ مَنْ
زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَهَا، اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ
الهُدَى وَالسَّدَادَ، اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنَ الخَيْرِ
كُلِّهُ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ مَا عَلِمْنَا مِنْهُ وَمَا لَمْ نَعْلَمْ،
وَنَعُوْذُ بِكَ مِنَ الشَّرِّ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ مَا عَلِمْنَا
مِنْهُ وَمَا لَمْ نَعْلَمْ، اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا
وَلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ
اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ إِنَّكَ أَنْتَ الغَفُوْرُ
الرَحِيْمُ. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ
العَالَمِيْنَ.
(Diadaptasi dari tulisan Ustadz Abu Ismail Muslim al-Atsari dimajalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun XVIII/1436H/2015M).